Thursday, 7 February 2013

Keheningan Kaligrafi Peter Dittmar



Oleh : Wayan Sunarta

(Peter Dittmar dan karyanya)
Kekosongan. Barangkali itulah tujuan akhir manusia dalam menjalani kehidupan di dunia yang sejatinya penuh diliputi duka derita. Manusia bermula dari kosong dan kembali kepada kosong. Pada titik ini kita menjadi paham mengapa pangeran Siddharta rela melepas segala ikatan duniawi, meninggalkan segunung harta kekayaannya, pergi menjauhi kerajaan, menyelami kekosongan dan menjadi Buddha. 


Konsep kekosongan ini pula yang banyak mengilhami Peter Dittmar dalam menciptakan lukisan-lukisannya. Hal itu bisa disaksikan dalam pameran tunggalnya yang digelar di Tonyraka Art Gallery, Mas, Ubud, dari tanggal 11 hingga 27 Januari 2013, bertajuk “New Colour Windows and Calligraphy”.

Lukisan-lukisan Peter Dittmar seperti haiku, puisi tradisional Jepang. Penuh dengan keheningan meditatif. Pada bidang-bidang warna, dia membubuhkan simbol-simbol kuno, seperti bentuk lingkaran, bujur sangkar dan persegi panjang. Pada beberapa karyanya, di atas warna dasar dia membuat variasi bidang dengan degradasi warna tertentu yang menampilkan kesan transparan dan kedalaman ruang. Pada hamparan warna merah, biru, dan warna-warna lain, dia membuat komposisi garis spontan berupa cipratan warna yang membentuk semacam permainan kaligrafi yang memesona. 

Peter Dittmar berupaya memadukan konsep teknik melukis ala Barat dengan filosofi Timur. Penggambaran bidang dan warna merujuk pada konsep dan filosofi mandala (bidang-bidang mistis), sehingga menjadi perpaduan yang utuh dalam karya-karyanya yang mengesankan spiritualitas. 

(karya Peter Dittmar)
Sejak lama, Peter Dittmar telah tertarik dengan spiritualitas Timur. Dia pernah melakukan perjalanan ke India, menggali inspirasi dari kosmologi Hindu-Buddha, demi memenuhi hasrat jiwanya akan spiritualitas. Dia menjadi bagian dari arus ide-ide Timur yang kemudian merasuki pikiran remajanya untuk memberontak pada kemapanan, sebagaimana yang telah dilakukan oleh kaum Generasi Bunga. 

Pesona Timur telah merasuki jiwanya. Dia menekuni ajaran Zen Buddhisme. Ajaran-ajaran Zen itu pula yang banyak memengaruhi konsep karyanya. Dia melatih diri dalam seni kaligrafi, dengan goresan yang kuat, tegas dan cepat, namun tetap mengesankan kelembutan. Dia mendalami hakikat warna dan keheningan yang dipancarkannya. 

Apart from Stillness and Void, the artist's squares, which he calls “COLOUR WINDOWS” also consciously, evoke Hindu-Buddhist cosmological symbols.Dittmar lahir di Munich, Jerman, tahun 1945. Pada tahun 1959-1963 dia menempuh pendidikan seni rupa di Academy of Fine Art Munich. Kemudian 1968-1982 dia mengajar seni di Munich at scholls, colleges and universities. Tahun 1983 dia mengajar seni rupa di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) hingga 1984. Tahun 1986 dia sempat mengajar seni di Federal University of Para di Belem, Brasil. Dia telah berkali-kali menggelar pameran bersama dan tunggal di kota-kota besar dunia, seperti  New York, Yokohama, Guangzhou, Huangzhou (Cina), Melbourne, Tokyo, Singapura, Basel, Berlin, Hong Kong, Sydney, Jakarta, Bandung, Bali, dan beberapa tempat lainnya. Sejak tahun 1982 dia menetap di Bali. Sejak tahun 2002 dia juga membuka studio dan sekali waktu menetap di Sydney.

Two main series of artworks mark two distinct stages, each in different visual language, of this same Zen-like quest.
Kebanyakan karya Dittmar merepresentasikan pencarian spiritual dan perenungan akan hakikat kehadiran kosmos. Dia berkeyakinan kosmos dibentuk oleh dua unsur yang saling berlawanan namun mengharmoniskan, seperti nature-culture, laki-perempuan, panas-dingin, dan sebagainya. Dalam terminologi kebudayaan Bali sering disebut sebagai konsep Rwa Bhineda, atau dalam ajaran Tiongkok kuno dikenal dengan paham Ying-Yang. Dittmar mengatakan selama bertahun-tahun mengakrabi spiritualitas dan kebudayaan Bali, dia terus berupaya menyerap taksu kosmologi tanah Dewata untuk proses penciptaan karya-karyanya.

(karya Peter Dittmar)
Dittmar menggarap karya-karyanya di atas bidang-bidang yang dilapisi dengan sejenis kertas merang yang biasa dipakai pada ritual-ritual di kuil Buddha dan Kong Hu Cu. Bidang-bidang itu dibentuk dengan mengacu pada simbol-simbol kuno, seperti lingkaran, bujur sangkar dan persegi panjang, yang mempresentasikan jendela dengan nuansa warna tertentu. Untuk mencitrakan ruang kosong, ia melubangi pusat bidang dengan bentuk-bentuk  lingkaran. 

Pada bidang-bidang yang telah dilapisi kertas merang itu, Dittmar membuat sapuan warna coklat muda, abu-abu, biru, merah, dan campuran abu-abu dengan kuning emas sebagai background. Warna dasar itu kemudian ditera dengan alat khusus sehingga memunculkan jejak garis bertekstur dan bervariasi, seperti garis lengkung  bergelombang, garis lurus. Hal itu, misalnya, bisa disimak pada lukisan “Color Window” yang menampilkan jejak-jejak garis melingkar di dasar warna merah, yang kemudian memusat pada bidang bujur sangkar menyerupai jendela berwarna biru.

Pada beberapa karyanya, di atas warna dasar dia membuat variasi bidang dengan penyebaran warna tertentu yang mencuatkan kesan transparan dan terkadang menampilkan aksentuasi bidang berwarna merah menyala, hitam, kuning emas. Pada beberapa karyanya yang lain, dia menciptakan komposisi garis spontan dan cipratan warna yang membentuk kaligrafi.

KWas it because he felt he had said all he had to say in this marya-karya terbaru Peter Dittmar sangat berbeda dengan karya-karya sebelumnya. Dalam seri terbarunya, ekspresi spontan telah digantikan oleh keteraturan dan kontrol. Dia terus menerus mendalami hakikat warna dan bidang, berupaya menemukan jenisAs if the artist had decided to explore an altogether different kind of abstraction. abstraksi yang sama sekali berbeda. Tentu upaya-upaya itu selalu berkaitan dengan pencarian spiritualnya.


No comments:

Post a Comment