Tuesday, 8 November 2011

Murni, Betapa Sunyi Jalan itu…





Oleh: Wayan Sunarta


Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba

(Chairil Anwar)


(I Gusti Ayu Kadek Murniasih, foto oleh Hardiman)
            Rabu malam, 11 Januari 2006, saya dikejutkan oleh SMS yang dikirim seorang teman: Berita duka-telah meninggal dunia teman tercinta kita, perupa Murniasih, petang tadi jam 6 wita. Semoga mendapat tempat yang mulia dari Sang Hyang Widhi Wasa.
            Saya masih belum percaya dengan rentetan kata-kata yang tertera di layar ponsel. Secepat itukah pelukis I Gusti Ayu Kadek Murniasih meninggalkan kita? Bagai sebuah gulungan film, dalam benak saya kembali melintas senyum dan tawanya yang lebar dan lepas, seakan tanpa beban derita. Saya kembali terkenang sepasang alisnya yang lebat hitam dan tajam. Sepasang alis yang nyaris menyatu itu selalu mengingatkan saya pada alis Frida Kahlo yang digambarkan begitu dramatis oleh Goenawan Mohamad dalam sebuah puisinya untuk pelukis Meksiko itu: di alismu langit berkabung dengan jerit hitam  dua burung.
Sejak kanak-kanak, Murni—begitu pelukis kelahiran Jembrana, 4 Juli 1966 itu akrab disapa—telah bersahabat akrab dengan kemiskinan dan penderitaan. Orang tuanya hanya bekerja sebagai petani, yang kemudian menjual sawahnya dan memutuskan bertransmigrasi ke Sulawesi. Di situ Murni kecil bekerja sebagai pembantu pada sebuah keluarga Cina yang kemudian menyekolahkannya, meski kandas sampai kelas 2 SMP. Murni kemudian diajak keluarga itu hijrah ke Jakarta dan bekerja di garmen sebagai tukang jahit. Karena tidak betah hidup di Jakarta, pada paruh 1987 Murni memutuskan pulang ke Bali dan bekerja sebagai pengerajin perak di Celuk. Di sini Murni bertemu lelaki dari Payangan, Gianyar, yang kemudian mengajaknya menikah. Pernikahan itu tidak membuahkan keturunan, malah berujung pada perceraian karena suaminya yang mendambakan anak ingin kawin lagi.
(karya Murniasih)
Setelah perceraian yang menyakitkan itu, Murni hijrah ke Ubud dan mengasah bakat melukisnya di sana sambil bekerja di sebuah toko kerajinan. Dia belajar melukis gaya Pengosekan yang pada saat itu terkenal dengan tema flora dan faunanya. Kemudian Murni berguru pada Dewa Putu Mokoh, pelukis Pengosekan yang suka menggubah lukisan-lukisan bertema erotika dengan gaya jenaka. Dari Mokoh, Murni banyak menyerap teknik dan keberanian menuangkan visual-visual dan tema-tema lukisan yang oleh kebanyakan orang dianggap nyleneh dan jaruh atau cabul. Tapi dengan gaya lukisan yang melanggar pakem dan tabu itulah Murni merasa menemukan ruang ekspresi sebebas-bebasnya bagi derita batin yang dipendamnya.
(karya Murniasih)
Lukisan-lukisan Murni menjadi semacam diary bagi kisah perjalanan hidupnya yang kelam, terutama yang berkaitan dengan kekerasan tubuh dan seks yang selalu memposisikan perempuan sebagai korban. Melalui media lukisan dia juga berkisah tentang keinginannya memiliki anak dari rahimnya sendiri, suatu harapan yang disadarinya tidak akan pernah menjadi nyata. Karena suatu tumor ganas, rahim Murni terpaksa diangkat dalam sebuah operasi—kira-kira enam tahun yang lalu—yang terus menyisakan derita sepanjang hidupnya.
            Di Pengosekan pula Murni bertemu Mondo, pelukis Italia yang sepenuh jiwa mencintainya. Mereka akhirnya sepakat tinggal bersama dalam sebuah rumah di tengah tegalan di Pengosekan yang dikontrak Mondo. Di tegalan luas yang dikelilingi pohon kelapa dan semak belukar itu, Murni membangun studio bambu sederhana, tidak jauh dari studio Mondo. Mondo adalah kekasih sekaligus guru yang banyak mengajari Murni teknik melukis dan komposisi ala Barat.
Untuk mencapai studio Murni, kita harus berjalan kaki menyusuri jalan setapak berliku, sekitar 300 meter dari jalan raya. Jalan setapak itu sendiri bagai menggambarkan jalan hidup Murni yang penuh lika-liku. Sekali waktu kita bisa memergoki ular kobra dan sanca yang melintas di tegalan itu. Murni sendiri pernah diintip ular kobra kecil ketika sedang asyik melukis. Beruntung gerakan refleks Murni masih bagus sehingga kobra yang kepalanya sudah mengembang di dekat kaki Murni mati dikepruk tangkai kuas panjang yang kebetulan sedang dipakainya melukis.
(I Gusti Ayu Kadek Murniasih, foto oleh Hardiman)
            Murni dalam kesehariannya senantiasa nampak bersahaja. Kalau tidak sedang bepergian, dia melukis di studionya hanya dengan mengenakan kain dan kaos oblong yang kusam dengan rambut tidak tersentuh sisir. Murni menyambut setiap tamu dan kenalan yang berkunjung ke studionya dengan wajah sumringah dan senyumnya yang hangat bersahabat. Pergaulan Murni sangat luas. Karena kepribadiannya yang hangat, Murni sangat dicintai oleh para sahabatnya. Kalau sedang terlibat dalam obrolan santai, Murni suka bicara apa adanya, blak-blakan, bahkan untuk masalah yang sangat pribadi. Tawanya renyah menyelingi obrolan membuat wajah-wajah yang bertamu nampak sumringah.
            Saya pernah beberapa kali mengunjungi studio Murni dan ngobrol ngarol-ngidul dengannya. Pada sebuah siang yang cerah, 8 Juli 2004, empat hari setelah ulang tahunnya yang ke-38, saya mengunjungi studionya. Dan kini pertemuan itu telah menjadi kenangan terakhir akan kehangatan persahabatannya.
            Saat itu, seperti biasa, Murni menyambut kami dengan luapan rasa gembira yang membayang pada wajahnya. Dia menjamu kami dengan kue-kue dan minuman hangat yang dilanjutkan dengan makan siang bersama, tentu saja dibarengi dengan ngobrol ngarol-ngidul yang diselingi tawa-canda. Saat itu dia baru saja menyelesaikan beberapa lukisan bertema erotika yang getir dan satir. Dia mempersilakan kami mengapresiasi lukisan-lukisan yang baru dibuatnya. Saya masih ingat sebuah lukisannya yang luar biasa satir mengenai ketertindasan kaum perempuan: sosok tubuh perempuan terikat erat di batang penis raksasa. Melalui lukisan-lukisannya yang inspiratif, Murni adalah seorang feminis yang sepanjang kariernya sebagai pelukis tak pernah berhenti mendobrak tabu dan terus melawan penindasan terhadap perempuan. 
(karya Murniasih)
        Pada sebuah pameran pelukis perempuan bertema Lifestyles di Denpasar (Februari 2005) Murni tidak hadir dalam pembukaan pameran yang diikutinya itu. Dia sedang mengobati kanker rahimnya di Bangkok bersama Mondo, dan pada akhirnya harus operasi dan opname di sana hingga November. Sempat pula berobat ke Italia, tapi penyakitnya tidak juga sembuh. Selama berobat itu berat badannya menyusut 25 kg, dari 67 menjadi 42 kg. Akhir November, dalam kondisi kurus kering dan menderita, dia minta pulang ke Bali.
Di rumahnya yang sederhana di Pengosekan, Murni dirawat oleh Mondo, anak angkat dan pembantu setianya. Sejumlah sahabat menjenguknya dengan wajah sedih dan berurai airmata karena tidak tahan melihat penderitaannya. Murni hanya tersenyum, meski dia susah mengenali sahabat-sahabatnya karena kondisinya yang sangat kritis. Tanggal 7 Januari 2006 dia sempat dilarikan ke RSUP Sanglah karena pendarahan pada bekas operasinya. Hanya sebentar opname di Sanglah karena Murni minta dibawa pulang. Mungkin Murni ingin memandang lukisan-lukisannya untuk terakhir kalinya, sebelum pada sebuah senja yang muram Sang Pelukis Agung menjemputnya dalam usia yang belum penuh 40 tahun.
Murni, betapa sunyi jalan itu…***


(Dimuat di Media Indonesia, 15 Januari 2006)

1 comment:

  1. Bli, minta fotonya Murni ya pakai ilustrasi cerpen di blog saya
    https://suara-sakingbali.blogspot.co.id/

    ReplyDelete