Label

Rabu, 23 Januari 2013

Seni Lukis Batuan Kembali Bangkit



Teks dan Foto : Wayan Sunarta


(suasana pameran)
Seni lukis gaya Batuan, Bali, telah dikenal sejak tahun 1930-an, dengan ciri khas figur-figur menyeramkan dan warna suram yang memenuhi bidang lukisan. Seiring perkembangan zaman, seni lukis Batuan berkembang secara tematik. Namun, secara pasar, seni lukis Batuan yang masih dikatagorikan seni lukis tradisional kalah bersaing dengan seni lukis modern.


Berbagai upaya dilakukan untuk membangkitkan kembali “kekuatan” seni lukis Batuan. Di antaranya adalah membentuk komunitas, pameran bersama, menerbitkan buku, dan membangun museum seni lukis Batuan di Desa Batuan, Gianyar, Bali. 

Dalam hal komunitas, para pelukis Batuan mendirikan Perkumpulan “Baturulangun”, yang diresmikan pada tanggal 1 Juli 2012. Beranggotakan 80-an pelukis dari berbagai generasi. Bahkan, dalam perkumpulan ini bergabung juga tiga pelukis perempuan. Ketua Baturulangun, Made Sujendra, mengatakan perkumpulan ini dibentuk selain untuk mewadahi para pelukis Batuan, juga untuk memotivasi generasi muda setempat agar kembali mencintai seni lukis Batuan. 

“Sekarang ini, banyak anak muda Batuan lebih terpengaruh kesenian modern yang dikampanyekan televisi. Mereka kurang memiliki kebanggaan pada seni lukis Batuan yang telah dikenal di manca negara sejak zaman dahulu. Dengan adanya perkumpulan ini, kami memotivasi generasi muda untuk kembali mencintai seni lukis Batuan,” tutur Sujendra.

(demo melukis di Arma Museum)
Belajar seni lukis Batuan memang cenderung sulit, memerlukan proses yang lama. Ada banyak tingkat kerumitan pada saat melukis, karena memakai teknik seni lukis tradisional, seperti nyeket, nyigar, ngabur, dan sebagainya. Hal ini yang membuat generasi muda yang ingin belajar melukis gaya Batuan, cenderung putus asa di tengah jalan. Mereka akhirnya banyak beralih membuat lukisan-lukisan yang mudah diserap pasar. “Maka, menurut kami, perhimpunan ini menjadi sangat penting. Selain melestarikan seni lukis Batuan, perhimpunan ini juga menjadi media kaderisasi,” kata Sujendra.

Menurut Sujendra, salah satu cara untuk memotivasi para pelukis Batuan itu adalah dengan mengadakan pameran. ARMA Museum, Ubud, menyambut keinginan luhur para pelukis Batuan. Dan, sejak tanggal 15 Desember 2012 hingga 15 Januari 2013, Perhimpunan Pelukis Baturulangun Batuan, mengadakan pameran bersama di museum tersebut. Pameran ini diikuti oleh 72 pelukis dari berbagai generasi, di antaranya Wayan Bendi, I Made Cekeg, Gde Widyatara, Wayan Eka Mahardika, Made Griyawan, I Dewa Putu Kantor, Wayan Gendra, Ketut Sadia, Made Sujendra

Pada saat pembukaan pameran, sebuah buku tebal berjudul “Inventing Art, The Paintings of Batuan Bali” yang ditulis oleh Bruce Granquist juga ikut diluncurkan. Bruce adalah seorang ilustrator, fotografer, dan pelukis abstrak kelahiran Chicago, Amerika, yang memiliki ketertarikan tersendiri pada seni lukis Batuan. Buku tersebut memuat kajian mendalam tentang seni lukis Batuan, berkaitan dengan kecenderungan objek dan narasi lukisan, struktur, warna, dan pola garis. Buku ini disusun selama tiga setengah tahun berdasarkan riset terhadap 600-an lukisan Batuan yang dikoleksi oleh seorang kolektor di Singapura. Selain itu, data-data juga dikumpulkan melalui wawancara dengan sejumlah pelukis di Batuan.

Kebangkitan seni lukis Batuan dengan terbentuknya Perhimpunan Baturulangun dan terbitnya buku yang disusun Bruce merupakan suatu yang signifikan. Menurut Bruce, selama ini belum ada buku yang membedah seni lukis Batuan dari segi struktur seni. Yang banyak beredar adalah buku tentang sejarah seni Batuan yang bernuansa antropologis. Buku ini menjadi sangat penting jika ingin mendalami seni lukis Batuan yang berkaitan dengan struktur seninya.

Sujendra mengatakan, sebagaimana kesenian lain di Bali, fungsi awal seni lukis Batuan adalah untuk kepentingan relegi, untuk persembahan atau hiasan di pura. Namun, seiring perkembangan pariwisata, seni lukis Batuan beralih ke fungsi pragmatis. Namun, dari dulu hingga sekarang, kebanyakan pelukis Batuan tidak mengandalkan seni lukis sebagai sumber penghasilan mereka. Rata-rata mereka memiliki profesi sampingan, seperti petani, tukang bangunan, guru, guide, makelar, buka warung, dan sebagainya. Melukis bagi mereka adalah hobi, profesi, eksistensi sosial.

“Jika hanya mengandalkan penjualan lukisan, tentu kami kewalahan secara ekonomi. Sebab, cukup sulit menjual lukisan jenis tradisi, kecuali dijual dengan harga obral. Namun, ada juga satu dua pelukis yang kehidupannya sukses dari menjual lukisan gaya Batuan,” kata Sujendra.

(Bruce dan bukunya)
Sementara itu, Bruce menarik kesimpulan bahwa tradisi seni lukis Batuan baru muncul sejak tahun 1930-an. Menurut Bruce, jika mengacu pada sejarah seni rupa dunia, seni lukis Batuan lebih modern ketimbang kubisme. Meski, secara teknik, seni lukis Batuan masih menggunakan teknik tradisional. Namun, secara tematik telah berkembang ke arah modern dengan cirri-ciri khas individu pelukisnya masing-masing.

“Secara perspektif, seni lukis Batuan lebih dinamis ketimbang perspektif seni lukis Barat. Seni lukis Batuan tak ada fokus. Sebab semua objek muncul secara serentak. Tak ada hubungannya dengan waktu. Atau seperti berada di luar waktu. Objek-objek seni lukis Batuan seperti fragmen-fragmen yang ditempel begitu saja di sebidang kanvas,” ujar Bruce. 

Pada tahun 1930-an, Walter Spies dan Rudolf Bonnet muncul membawa ilmu perspektif Barat. Para pelukis Batuan era awal, tak begitu terpengaruh dengan perpektif Barat. Justru Spies dan Bonnet yang banyak menyerap inspirasi dari seni lukis Batuan. Namun, dibandingkan dengan era 1930-an awal, kini secara tematik seni lukis Batuan telah banyak bergeser. Dari tema-tema magis dan mistis seperti barong, leak, rangda, menjadi tema-tema keseharian, bahkan berbau kontemporer, seperti pesawat terbang, mobil, dll.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar