Labels

Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Thursday, 18 August 2016

Memperjuangkan Kesetaraan Gender Melalui Kesenian


Oleh: Wayan Jengki Sunarta



Secara umum, sistem sosial-budaya di Bali menganut ideologi patriarki yang menempatkan laki-laki sebagai otoritas utama. Ideologi ini didoktrinasi dan diwarisi secara turun temurun melalui sistem nilai, norma, aturan. Bahkan diperkuat dengan mitos, folklore, dan sistem kepercayaan. Di Bali, lelaki ditempatkan sebagai purusa, dan perempuan adalah pradana. Purusa adalah kepala keluarga, pelanjut keturuan dan pewaris tradisi. Pradana hanya dianggap pelengkap dalam keluarga. Ideologi ini pada akhirnya membentuk tradisi, budaya, serta sistem sosial yang disadari atau tidak cenderung merugikan kaum perempuan.

Friday, 30 August 2013

Kendala Berbahasa

Catatan Dewan Juri Lomba Penulisan Cerpen Tingkat SMK/SMA se-Bali 2013 Yang Digelar Balai Bahasa Provinsi Bali


Kendala Berbahasa

Oleh : Wayan Jengki Sunarta

Perlu disyukuri, setiap tahun Balai Bahasa Provinsi Bali menggelar lomba penulisan cerita pendek (cerpen) tingkat SMK/SMA se-Bali. Dalam perlombaan tahun ini, Dewan Juri menerima sekitar 100-an naskah cerpen. Dewan Juri terdiri dari Oka Rusmini (sastrawan), Wayan Jengki Sunarta (sastrawan), dan I Gusti Ketut Tribana (akademisi).

Wednesday, 28 November 2012

Perjuangan Melawan Lupa


Oleh : Wayan Sunarta

Suatu hari, seseorang mengirimi saya anggrek dalam pot. Angrek itu belum berbunga, masih kuncup. Orang misterius itu juga mengirimi saya sebuah buku, berjudul “Memory: Trik Jitu Meningkatkan Daya Ingat” karangan S. Hagwood. Kiriman itu diterima oleh Ibu saya. Saya bertanya siapa yang mengirim? Ibu saya menjawab tidak tahu. Di amplop coklat yang berisi buku tak ada identitas pengirim. Tak juga ada tanda tangan si pengirim di buku itu. Jelas, orang misterius itu mengupah kurir untuk mengirimnya.

Saturday, 24 December 2011

Entitas Mengritisi Bali

- Tulisan di Katalog Acara  "Entitas Nurani # 2" yang berlangsung di Gedung Kriya, Taman Budaya Bali, 23 Desember 2011 hingga 6 Januari 2012 -


Oleh : Wayan ‘Jengki’ Sunarta


Dan Bali,
dengan segenap kesenian,
kebudayaan, dan alamnya,
harus bisa diringkaskan,
untuk dibungkus dalam kertas kado,
dan disuguhkan pada pelancong.
…….
Di Bali :
pantai, gunung, tempat tidur dan pura,
telah dicemarkan
 
(Sajak Pulau Bali, WS Rendra, 23 Juni 1977)


(Made Kaek, Gubernur Bali Mangku Pastika, dan Wayan Redika saat pembukaan pameran)
Dalam acara pembukaan “Entitas Nurani #1” yang digelar tanggal 31 Mei 2008 di Gedung Kriya, Taman Budaya Bali, Made Mangku Pastika menorehkan komitmennya di sebidang kanvas: “Strategi budaya harus menjadi acuan dalam menuju Bali Mandara: Maju, Aman, Damai, Sejahtera.” Komitmen ini adalah salah satu jargon andalan yang dilontarkan Mangku Pastika dalam upaya politik pencitraan, yang tujuannya tentu meraup dukungan masyarakat seluas-luasnya. Sejarah kemudian mencatat, Made Mangku Pastika dinobatkan sebagai Gubernur Bali lewat sistem pemilihan langsung.

Seperti biasa, masyarakat Bali menaruh begitu banyak harapan dan impian di pundak dan benak gubernur yang baru terpilih. Tidak hanya harapan dan impian dari kalangan seniman dan budayawan, melainkan juga dari industri pariwisata, lembaga pendidikan, lembaga adat, pers, dan pihak-pihak yang berkepentingan dengan Bali. Sementara itu, harapan dan impian rakyat jelata mungkin dianggap angin lalu, sebab tak memiliki akses langsung pada jejaring kekuasaan.