- Tulisan di Katalog Acara "Entitas Nurani # 2" yang berlangsung di Gedung Kriya, Taman Budaya Bali, 23 Desember 2011 hingga 6 Januari 2012 -
Oleh : Wayan ‘Jengki’
Sunarta
Dan Bali,
dengan segenap kesenian,
kebudayaan, dan alamnya,
harus bisa diringkaskan,
untuk dibungkus dalam kertas kado,
dan disuguhkan pada pelancong.
…….
Di Bali :
pantai, gunung, tempat tidur dan pura,
telah dicemarkan
(Sajak
Pulau Bali, WS Rendra, 23 Juni 1977)
 |
| (Made Kaek, Gubernur Bali Mangku Pastika, dan Wayan Redika saat pembukaan pameran) |
Dalam acara pembukaan “Entitas Nurani
#1” yang digelar tanggal 31 Mei 2008 di Gedung Kriya, Taman Budaya Bali, Made
Mangku Pastika menorehkan komitmennya di sebidang kanvas: “Strategi budaya harus menjadi acuan dalam menuju Bali Mandara: Maju,
Aman, Damai, Sejahtera.” Komitmen ini adalah salah satu jargon andalan yang
dilontarkan Mangku Pastika dalam upaya politik pencitraan, yang tujuannya tentu
meraup dukungan masyarakat seluas-luasnya. Sejarah kemudian mencatat, Made
Mangku Pastika dinobatkan sebagai Gubernur Bali lewat sistem pemilihan langsung.
Seperti biasa, masyarakat Bali menaruh
begitu banyak harapan dan impian di pundak dan benak gubernur yang baru
terpilih. Tidak hanya harapan dan impian dari kalangan seniman dan budayawan,
melainkan juga dari industri pariwisata, lembaga pendidikan, lembaga adat,
pers, dan pihak-pihak yang berkepentingan dengan Bali. Sementara itu, harapan
dan impian rakyat jelata mungkin dianggap angin lalu, sebab tak memiliki akses
langsung pada jejaring kekuasaan.