Aku lahir. Gajahmada melepas jangkar. Melabuhkan armada tempur di pantai
leluhurku. Malam biru. Seperti jubah laut masa lalu.
Ayahku nelayan tua bermata ungu. Suka bercengkerama dengan ikan, ombak,
rasi biduk dan perahu. Ibuku dayang istana, perayu ulung, penakluk muasal kata,
penadah titah yang patah. Suatu malam raja melepas lelah dalam rahim ibu. Aku
terjaga. Aku benih, gabungan sudra dan ksatria, hanyut menggenangi gema genta
pendeta. Aku putra jadah. Rasi bintang yang sendiri. Terbuang, tak diakui.
Meski raja mencintaiku, namun tahta adalah utama, setelah titah. Ibu mengeluh.
Aku pasrah. Maka, nelayan tua bermata ungu itu,
kupanggil ayah.