Labels

Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Thursday, 20 October 2011

Cakra Punarbhawa



Cerpen: Wayan Sunarta


Aku lahir. Gajahmada melepas jangkar. Melabuhkan armada tempur di pantai leluhurku. Malam biru. Seperti jubah laut masa lalu.
   
Ayahku nelayan tua bermata ungu. Suka bercengkerama dengan ikan, ombak, rasi biduk dan perahu. Ibuku dayang istana, perayu ulung, penakluk muasal kata, penadah titah yang patah. Suatu malam raja melepas lelah dalam rahim ibu. Aku terjaga. Aku benih, gabungan sudra dan ksatria, hanyut menggenangi gema genta pendeta. Aku putra jadah. Rasi bintang yang sendiri. Terbuang, tak diakui. Meski raja mencintaiku, namun tahta adalah utama, setelah titah. Ibu mengeluh. Aku pasrah. Maka, nelayan tua bermata ungu itu,  kupanggil ayah.

Puncak Ketujuh


cerpen : Wayan Sunarta


            Kami mendaki. Masih terus mendaki. Puncak ketujuh, yang kami rindukan selama hidup kami, belum juga terlihat. Kakiku terasa gemetar. Tubuhku menggigil menahan dingin yang dihembus angin kabut. Aku baru tiba di lambung gunung. Puncak ketujuh masih jauh, teramat jauh, seakan tak mampu kami jangkau. Namun, kami terus mendaki.
            Saudara seperjalananku yang berjumlah lima orang tampak tertinggal di belakangku. Mereka seakan tidak mampu mengikuti jejak dan jalan setapak yang telah kurintis. Tenaga mereka seperti terkuras dalam pendakian yang menjenuhkan. Pada setiap langkah yang kami tempuh, sering kami berpikir, apa yang ingin kami capai dalam pendakian ini? Ketenaran? Cita-cita? Atau, tidak untuk apa-apa?

Laut Kelabu


cerpen : Wayan Sunarta


            Laut itu masih selalu kelabu, sejak berabad-abad lalu. Warna langit yang biru dan sedikit kelam terpantul di lautan kelabu. Pasir yang menghampar hitam seperti tersepuh warna muram. Angin menyisir pohon-pohon nyiur. Jiwaku berdesir…
            Entah apa yang memedihkan hatiku ketika menatap lautan kelabu itu? Selalu saja kakiku ingin melangkah ke situ, duduk di sebuah warung kopi sederhana, dan seakan tak jenuh menatap lautan yang tenang, meskipun kelabu.

Kembar Buncing

cerpen : Wayan Sunarta
 

Tiga hari lalu, Luh Sarni melahirkan bayi kembar. Yang lebih mengejutkan, bayi tersebut bukan kembar biasa. Tapi kembar buncing, kembar laki-perempuan! Meski melahirkan di rumah sakit di kota kabupaten, tapi berita telah menyebar dan menggegerkan warga desanya.
Kelahiran bayi kembar buncing dianggap membawa aib yang akan mencemari desa. Menurut awig-awig setempat, orang tua dan bayinya harus diasingkan selama 42 hari di pinggiran desa dekat kuburan. Selain itu, keluarganya juga diwajibkan menggelar upacara bersih desa di perempatan desa yang menelan biaya tidak sedikit.

Jimat Tikus

cerpen : Wayan Sunarta


            Walau agak ragu, namun akan saya kisahkan pada Anda, sepenggal pengalaman saya menjadi tikus cerurut. Sejenis tikus yang tampangnya paling tidak menarik, tidak lucu atau imut seperti tikus rumah atau tikus sawah, tidak bersih dan putih seperti tikus percobaan di laboratorium, apalagi menawan dan memesona seperti tikus kantor. Saya hanyalah tikus yang sangat menjijikkan, yang hidup dan mencari sisa-sisa makanan di comberan berbau busuk. Namun siapa yang menyangka, kalau saya adalah pemegang rahasia rencana-rencana busuk dari sejumlah tikus…

Penggalan Kepala Patung


cerpen : Wayan Sunarta


Pada sebuah pelataran candi tua di tepian sungai yang juga tua, aku menyaksikan patung tua berlumut. Patung setinggi tubuhku itu mencitrakan sosok dewi (atau bidadari?). Meski berlumut dan nyaris lapuk, wajah patung itu begitu anggun dengan mahkotanya yang terukir indah. Kedua tangannya di dada mencakup kendi yang terus mengucurkan air bening, mengairi sebuah telaga di bawahnya yang ditumbuhi seroja berbagai warna.

Rumput Liar



cerpen : Wayan Sunarta


Sepanjang sejarah Kecamatan A, baru kali ini dijumpai kejadian yang betul-betul tidak masuk akal. Pak Camat bingung. Seluruh pegawai kecamatan gundah.. Masyarakat resah dan panik. Pangkal dari kejadian aneh itu hanya perkara rumput. Rumput-rumput tumbuh sangat subur dan liar. Rumput tumbuh di mana-mana. Juga kantor-kantor pemerintahan, tak luput dari serangan rumput liar itu. Sejauh mata memandang, yang ada hanya hamparan rumput, mengalahkan tumbuhan lainnya. Kecamatan A tampak seperti bentangan karpet berwarna hijau. Rumput-rumput liar itu seakan ingin memproklamirkan kemerdekaannya.

Ratih


Cerpen: Wayan Sunarta


Lebih dari lima kali Ratih menatap jam tangannya, namun wisatawan yang ditunggunya belum juga tiba. Kini jam di pergelangan tangannya telah menunjuk angka dua dini hari. Mestinya pesawat yang mengangkut wisatawan itu telah mendarat di Bali sejam lalu. Ah, mungkin ada gangguan teknis atau keterlambatan pemberangkatan, gumam Ratih lirih.

Penjaga Kamar Mayat


Cerpen: Wayan Sunarta


Sudah lebih dua puluh lima tahun Pak Tabah bekerja sebagai penjaga kamar mayat. Rentang waktu yang lumayan panjang itu, dia lewati dengan penuh ketekunan, kegembiraan serta rasa tanggung jawab sebagai penjaga kamar mayat. Ia pun telah menerima penghargaan atas pengabdiannya yang lama dari rumah sakit tempatnya bekerja. Penjaga-penjaga kamar mayat yang junior bangga dan hormat kepadanya. Mereka telah menganggap Pak Tabah sebagai bapak mereka sendiri.

Menunggu


cerpen : Wayan Sunarta


Lelaki itu duduk bertopang dagu di bangku kayu di sebuah taman rumah sakit. Di langit barat, senja baru saja selesai menarik kuas terakhirnya, membubuhkan warna merah keemasan. Dan seperti biasa, burung-burung yang letih pulang ke pembaringannya, di pucuk-pucuk pohon yang berderet di jalan menuju taman rumah sakit itu.

Kutukan



Cerpen: Wayan Sunarta
                       

Langit masih mendung. Sejak sore tadi hujan turun tiada hentinya. Di jalanan sampah-sampah berserakan akibat got-got yang meluap. Sambil sedikit menggigil Pastika mengendarai motor bebeknya, membonceng kekasihnya, Maya. Mereka mampir di sebuah warung jagung bakar yang banyak bertebaran di sepanjang jalan di kawasan Renon. Dingin-dingin begini pasti asyik makan jagung bakar, apalagi bersama kekasih tercinta, pikir Pastika.

Kematian Ayah


 Cerpen: Wayan Sunarta


Dini hari tadi ketika kabut masih bergelayut di ujung-ujung daun kopi, di dahan-dahan cengkeh, di pucuk-pucuk pohon duren, Ayah akhirnya berhasil menyelesaikan hembusan nafasnya yang penghabisan. Ayah pergi dengan sangat tenang, meninggalkan dua istri (satu sudah meninggal), sepuluh anak, lima cucu.

Birgit


cerpen : Wayan Sunarta


          Pantai Kuta. Malam Minggu. Hampir jam delapan. Beberapa pasangan kekasih asyik bercumbu. Pasir masih menyisakan hangat matahari senja.
          “Dika, tolong antar aku ke Legian, ya.”
        Dengan perasaan berdebar lelaki gondrong itu menatap mata biru Birgit yang bagai lautan musim panas. Dalam mata itu, terbayang kamar hotel yang sederhana, namun hangat. Birgit mengambil bir dari kulkas. Minum bersama sambil bercengkerama sampai sedikit mabuk. Kemudian, dengan kepala agak berdenyut, wanita putih berusia 23 tahun itu melepas gaun. Mata biru yang sayu dan penuh gairah itu menghunjam bola matanya yang tiba-tiba saja mau meloncat dari cangkangnya. Lalu wanita yang dikarunia pinggul bagus itu melorotkan celana. Lalu menerkam dengan buas. Berguling-gulingan di kasur empuk. Saling pagut dalam aroma alkohol. Lalu terjadilah apa yang seharusnya terjadi! Bukankah malam ini adalah malam perpisahan? Besok siang, sesuai agenda, Birgit sudah harus terbang ke Jerman.

Anjing dan Dendam


Cerpen: Wayan Sunarta


Jimi seekor anjing lucu, peliharaan keluargaku. Ia termasuk jenis anjing pendek berbulu lebat dengan tampang sangat menggemaskan. Setahun lalu, Ibu membelinya dari penjaja anjing yang sering lewat di depan rumah. Persis seperti memperlakukan anak kecil, Jimi dirawat sangat telaten oleh Ibu dan adik bungsuku. Anjing lucu itu biasa diberi makan teratur dalam sebuah piring khusus yang bersih, diberi minum susu hampir setiap hari, diperiksa kesehatannya oleh dokter hewan kenalan Ibu. Jimi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keluarga kami.

Pondok Bambu

cerpen : Wayan Sunarta


Di bawah pondokku ada sebuah kali mati, setengah mengelilingi pondok, seperti membentuk huruf “U”. Pinggiran kali mati itu dipenuhi semak belukar, dan sepertinya diliputi berbagai kegaiban. Setiap kali mengenang pondok itu, terbayang kembali peristiwa setahun lalu. Aku pernah hampir terlempar dari atap pondok.

Tajen


cerpen : Wayan Sunarta



            Debu-debu dari kibasan sayap ayam yang beradu menerpa wajah-wajah tegang para bebotoh. Wajah-wajah itu penuh dialiri keringat masam bercampur debu. Arena tajen minggu itu begitu ramai dan sumpek, penuh riuh-rendah para bebotoh yang sedang bertaruh.
            “Mana Tangeb?” seorang lelaki kekar dengan tatto di kedua lengannya berteriak lantang ke tengah arena. “Hari ini aku harus bikin perhitungan dengannya. Sudah banyak uangku masuk kantongnya!”

Muli Sikep


cerpen : Wayan Sunarta


            Muli sikep yang mengayuh perahu itu kembali muncul dari balik gumpalan kabut. Dia mengayuh perahu sangat tenang, penuh irama, penuh rasa, seakan menghayati gerak kabut yang perlahan tersibak oleh alunan laju perahu.

Lembah Batur

 cerpen : Wayan Sunarta


            Langit senja dihiasi kabut tipis putih keabuan dan rapuh. Udara dingin menyusup ke dalam pori-pori tubuh. Kami bertiga saja, tiba di Lembah Batur tepat sebelum senja berangkat petang. Rencana pendakian besok pagi telah kami susun sedemikian rupa. Gunung Batur memang terlihat gampang didaki. Tapi tetap saja kami perlu mempersiapkan segala sesuatunya. Kami menginap di sebuah losmen murah yang memang diperuntukkan bagi para pendaki dan pelancong yang kemalaman.

Kekasih Menjelma Cahaya


Cerpen: Wayan Sunarta



Bekas jejak pada pasir basah itu masih tampak jelas. Jejak-jejak kaki orang dewasa itu seperti mengarah pada suatu tempat. Yang jelas bukan menuju laut, tapi ke arah rerimbunan semak belukar.
            Laut menghempaskan gulungan-gulungan gelombang ke tepian pantai. Sesekali mendamparkan beberapa cangkang kerang yang kosong, sebab penghuninya telah mati atau mungkin berpindah tempat. Kekasihku memunguti cangkang-cangkang kerang itu, menimang-nimangnya sebentar, kemudian melemparkannya sekuat tenaga ke tengah laut. Sesekali dia melonjak kegirangan karena lemparannya mampu menjangkau titik terjauh. Dia seakan menemukan keasyikan tersendiri dalam permainannya itu.

Pulang

cerpen: Wayan Sunarta


            Udara gemetar dingin. Aroma tanah basah. Daun-daun tua yang digugurkan angin memenuhi jalan. Gerimis masih terasa derainya. Lampu-lampu merkuri sepanjang jalan bersinar muram. Sebagian besar penghuni kota telah nyenyak di bawah selimut tebal.
Satu dua motor berlalu menyalip motor yang ditunggangi Dampar. Hanya motor tua, seringkali mogok bila terguyur hujan. Lajunya juga tidak kencang. Ia betulkan letak spion seraya mengaca sepintas-pintas. Pada spion ia menemukan wajah yang kusut dan nampak letih.