Labels

Tuesday, 8 November 2011

Pendobrak dari Pengosekan



Oleh: Wayan Sunarta


(Dewa Putu Mokoh)
Dewa Putu Mokoh adalah seorang pendobrak seni lukis corak Pengosekan, Ubud. Ketika pelukis senior Pengosekan banyak menggarap karya-karya bertema Ramayana dan Mahabarata dan pelukis muda membuat lukisan bertema flora dan fauna, Mokoh malah asyik menggali objek-objek yang naif, lucu, sederhana, nyleneh dan cenderung nakal. Mokoh banyak melukis apa-apa yang dilihat di sekitarnya, atau yang sedang mengusik fantasinya. Tema-tema lukisannya sederhana dan remeh temeh.

Murni, Betapa Sunyi Jalan itu…





Oleh: Wayan Sunarta


Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba

(Chairil Anwar)


(I Gusti Ayu Kadek Murniasih, foto oleh Hardiman)
            Rabu malam, 11 Januari 2006, saya dikejutkan oleh SMS yang dikirim seorang teman: Berita duka-telah meninggal dunia teman tercinta kita, perupa Murniasih, petang tadi jam 6 wita. Semoga mendapat tempat yang mulia dari Sang Hyang Widhi Wasa.
            Saya masih belum percaya dengan rentetan kata-kata yang tertera di layar ponsel. Secepat itukah pelukis I Gusti Ayu Kadek Murniasih meninggalkan kita? Bagai sebuah gulungan film, dalam benak saya kembali melintas senyum dan tawanya yang lebar dan lepas, seakan tanpa beban derita. Saya kembali terkenang sepasang alisnya yang lebat hitam dan tajam. Sepasang alis yang nyaris menyatu itu selalu mengingatkan saya pada alis Frida Kahlo yang digambarkan begitu dramatis oleh Goenawan Mohamad dalam sebuah puisinya untuk pelukis Meksiko itu: di alismu langit berkabung dengan jerit hitam  dua burung.

Sukari, Selamat Jalan...

(Tulisan ini dimuat di Majalah Arti, 2010)

 
Teks Wayan Sunarta, Foto Dokumentasi Made Budhiana


(Made Budhiana dan Nyoman Sukari)
Suatu malam, di bulan Agustus 2007, usai acara pembacaan puisi di Festival Kesenian Yogyakarta XIX, seorang lelaki menyapa saya, “Yan, bawa arak?” Lelaki itu bertubuh pendek, namun gempal. Rambut gondrong sebahu, kumis dan jenggotnya sangat lebat, terkesan sangar. Namun, dia memamerkan senyum penuh persahabatan. Dia adalah Nyoman Sukari, pelukis yang cukup diperhitungkan dalam jagad seni rupa Indonesia.

Belajar pada Lebah



(Tulisan kuratorial “Suasana Lebah”, pameran tunggal Ketut ‘Kabul’ Suasana di Sudana Gallery, Ubud, 7 – 17 Oktober 2009)


Oleh: Wayan Sunarta



(karya Ketut 'Kabul' Suasana)
Dunia seni rupa tidak hanya unjuk keterampilan teknis, melainkan juga pergulatan ide, pemikiran atau wacana, untuk mencoba melahirkan berbagai terobosan baru. Namun  pada kenyataannya, dunia seni rupa dipersempit dengan maraknya trend atau selera pasar dimana banyak pelukis muda terjebak menjadi bebek, tanpa memiliki pendirian jelas.
Misalnya, ketika trend lukisan tertentu banyak diminati pasar, para pelukis “bebek” ramai-ramai meniru trend tersebut. Bila perlu dengan menggunakan teknik-teknik canggih dan bantuan komputer beserta perangkat lunak lainnya. Pelukis-pelukis itu kemudian berlindung dibalik kata “kontemporer” tanpa memahami betul makna kata itu sendiri. Galeri dan para cukong seni rupa sering pula mendikte pelukis untuk mengikuti selera pasar. Parahnya lagi, demi terserap pasar, banyak pelukis muda kehilangan jati dirinya karena tidak memiliki posisi tawar yang kuat. Kondisi ini menyebabkan dunia seni rupa lebih mirip pasar kerajinan seperti biasa dilihat di pasar Sukawati atau Ubud.

Polusi Rasa : Atmi dan Dunia Anak-anak


(Pengantar kuratorial pameran “Polusi Rasa” Atmi Kristiadewi di Ten Fine Art Gallery, Sanur, 4 - 14 Juni 2011)


Polusi Rasa : Atmi dan Dunia Anak-anak

Oleh: Wayan Sunarta *


Anak-anakmu bukanlah milikmu
Mereka adalah putra-putri kehidupan
Yang rindu pada dirinya sendiri...

(Kahlil Gibran)


(salah satu karya Atmi)
Dunia anak-anak adalah suatu dunia yang polos, riang, senang bermain, selalu ingin tahu, namun terkadang menjengkelkan para orang tua. Anak-anak ibarat kertas putih yang siap menerima goresan warna apa saja. Kalau salah memberi warna, maka anak-anak akan tumbuh dewasa dengan warna yang salah itu.

Kesalahan terbesar para orang tua adalah mereka seringkali menganggap anak-anak sebagai miliknya yang absolut. Mereka mencekoki otak anak-anak dengan berbagai keinginan yang seringkali bertabrakan dengan keinginan anak-anak itu sendiri. Misalnya, anak-anak disuruh les ini-itu, dijejali pelajaran-pelajaran yang belum perlu, diarahkan menjadi ini-itu, sehingga anak-anak depresi dan mencari pelampiasan dengan hal-hal yang membahayakan.

Monday, 7 November 2011

Pertemuan dengan Umbu


Oleh: Wayan Sunarta




(Umbu Landu Paranggi)
Pertemuan pertama saya dengan Umbu Landu Paranggi merupakan sebuah pertemuan yang sangat menjengkelkan sekaligus menggelikan, yang terus membekas dalam kenangan. Namun pertemuan-pertemuan selanjutnya merupakan anugerah tak ternilai yang ikut mempengaruhi perjalanan hidup saya, terutama ketika bergesekan dengan dunia puisi.
Pada sebuah petang yang cerah di bulan Agustus 1993, ketika saya masih kelas tiga sekolah menengah atas, saya diajak oleh seorang kawan menonton pertunjukan teater di sebuah sanggar di Sanur, Denpasar. Kata kawan saya, Umbu pasti datang dalam acara itu. Kata dia lagi, kesempatan bertemu Umbu sangat langka, maka sangat rugi kalau saya tidak datang.

Sunday, 6 November 2011

ARSIP ULASAN/KRITIK SENI RUPA 2001-2005 Karya Wayan Sunarta

ARSIP ULASAN/KRITIK SENI RUPA 2001-2005 Karya Wayan Sunarta



Pameran Koniherawati di Seniwati Gallery Ubud: Protes Dominasi Kodrat. Majalah Gatra, 25 Agustus 2001.

Pameran IB Lolec di Paros Gallery, Sukawati-Gianyar: Musim Semi dalam Duka. Majalah Gamma, 7-13 November 2001.

Pameran I Wayan Pastika: Mencintai Tubuh Perempuan tanpa Rasa Birahi. Koran Bali, 8-11 November 2001.

Pameran Seni Instalasi Yoshie Mizuno di Sika Gallery, Ubud: Si Perindu Kebebasan. Majalah Gamma, 21-27 November 2001.

Pameran “Refleksi Tiga Pelukis” di Darga Gallery, Sanur: Tiga Menguak Bali. Koran Bali, 3-5 Desember 2001.

Walter van Oel: Menemukan Tuhan dalam Warna. Koran Bali, 24-26 Desember 2001.

SK Hanny: Meditasi dalam Putaran Lingkaran. Koran Bali, 24-26 Desember 2001.

Pameran Made Romi Sukadana: Tanpa Gala, Tiada Dali. Majalah Gamma, 12-18 Desember 2001.